Senin, 07 Januari 2013

integrasi pendidikan karakter pada pembelajaran sains



INTEGRASI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM SAINS

 6 Januari 2013

 Srimulyati/1204209

Universitas Negeri Padang (UNP)
Program magister Pendidikan Fisika
Berdasarkan undang-undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 Bab I, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Tujuan dari diadakannya pendidikan tersebut untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Dilihat dari tujuan penjelasan di atas bahwa pendidikan itu sangat penting sekali bagi masa depan bangsa Indonesia, masa depan penerus bangsa. Dari hal itu perlunya sedini mungkin mengadakan perubahan rencana program pendidikan yang lebih baik, agar tujuan dari pendidikan nasional tercapai. Perubahan harus dimulai dari sekarang, karena itu mencapai keberhasilan nanti maka harus dipersiakan dari sekarang. Tidak mungkin kan kalau kita ingin perubahan untuk masa mendatang dilakukan juga pada masa mendatang?  

Untuk mencapai tujuan pendidikan itu dibutuhkan suatu rencana pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pembelajaran, yang kita kenal sebagai kurikulum. Berdasarkan informasi yang beredar akhir-akhir ini di berbagai media massa,  bahwa saat ini pemerintah tengah mempersiapkan kurikulum baru yang di harapkan rampung pada bulan Februari 2013. Berbeda dari biasanya, kurikulum ini sebelum dipublikasikan dilakukan terlebih dahulu uji publik agar rancangan kurikulum ini dapat dipahami oleh publik dan mereka merasa berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum ini. Strategi kurikulum baru ini, lebih menekankan pada model pembelajaran tematik yang berarti pembelajaran terpadu menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa yang lebih mengarah kepada pendidikan karakter.

Tuntunan diharuskan pendidikan karakter ini juga didasarkan pada fenomena sosial yang berkembang, meningkatnya kenakalan remaja dalam masyarakat, seperti perkelahian massal dan berbagai kasus amoral lainnya. Di kota-kota besar tertentu gejala tersebut sudah sampai pada taraf yang meresahkan dan memprihatinkan. Karena itu lembaga pendidikan formal sebagai wadah resmi pembinaan generasi penerus bangsa diharapkan dapat meningkatkan peranannya dalam pembentukan kepribadian peserta didik melalui pendekatan intensitas dan kualitas pendidikan karakter.  
Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen pendidikan harus dilibatkan, termasuk komponen pendidikan itu sendiri, yaitu, kompetensi lulusan, isi kurikulum, proses pembelajaran dan standar penilaian, penangan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan dan etos kerja seluruh warga sekolah

Pendidikan karakter ini adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membentuk  watak  peserta didik, hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi dan lain-lain.
Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran, salah satunya dalam pembelajaran sains. Pembelajaran sains yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh akan memberikan sumbangan bagi peserta didik dalam mempersiapkan dirinya menghadap kehidupan nyata di masyarakat. Unsur-unsur kedisiplinan, kecermatan, ketekunan, ketelitian, dan kejujuran misalnya dalam melakukan kegiatan observasi dan pengukuran secara bertahap akan membentuk karakter peserta didik. Nilai-nilai yang dapat diperoleh dari hasil pembelajaran sains adalah:

Obyektivitas, keakuratan, ketepatan, pencarian kebenaran, pemecahan masalah, penghargaan makna kemanusiaan, melindungi kehidupan manusia, kejujuran intelektual, kejujuran akademik, keteguhan hati, kerendahan hati, membuat keputusan, kesediaan menghargai pendapat, saintifik inkuiri, mempertanyakan semua hal, kebutuhan verifikasi, menghormati logika, integritas, rajin, tekun, rasa ingin tahu, terbuka, rasa ingin tahu, terbuka, kritis, imaginasi.

Penanaman  nilai-nilai sains dapat dilaksanakan manakala guru dapat menyusun perencanaan pembelajaran dengan baik, yaitu dengan penetapan tujuan berarah kognitif, afektif, psikomotor, dan melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran secara utuh. Pendidikan sains memiliki peranan penting dalam menjaga dan meningkatkan kualitas hidup manusia.
Metode pendidikan karakter dalam pendidikan sains adalah sebagai berikut:
  •  Menanamkan
  • Mengembangkan
  •   Mengklarifikasikan
Ketiga hal tersebut dapat terlaksana dalam pembelajaran sains melalui tiga tahapan. Pertama rancangan pembelajaran, yaitu pada bagian tujuan pembelajaran yang secara tegas harus menunjukkan jenis sikap apa yang akan dibelajarkan pada siswa, kemudian bagaimana kondisi dan langkah pembelajaran yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut, dan teknik (jenis) penilaian apa yang sesuai untuk mengevaluasi tujuan tersebut. Kedua, dalam pelaksanaan pembelajaran secara intensif guru mengamati perilaku (sikap) siswa selama proses belajar, dan memberikan umpan balik bagaimana seharusnya siswa bersikap dalam menghadapi masalah yang disodorkan dalam pembelajaran. Ketiga, guru melakukan penilaian terhadap sikap-sikap yang ditunjukkan siswa atau dapat juga dari penilaian siswa sendiri dan teman. Hasil penilaian ini seyogyanya didiskusikan untuk umpan balik bagi siswa.

Metode pembelajaran yang sesuai untuk pembentukan sikap dalam pembelajaran sains, selain ketrampilan proses, inquiri, dan problem solving, secara konstruktivistik juga dapat dilaksanakan melalui metode lain misal roll playing.
Rujukan:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar